Hikayat Proses Kreatif Masakan Keluarga

27 Maret 2018, Aan Haryono

Hikayat Proses Kreatif Masakan Keluarga

 

Dapur selama ini tak hanya menjadi ruang hampa tanpa kreatifitas. Di ruang yang biasanya berada di bagian belakang rumah itu, ide-ide gila dan resep masakan ala rumahan selalu muncul. Kini, di kota-kota besar ruang kreatif itu tak lagi sakral. Tak banyak suara tajam pisau berseliweran. Tangan-tangan ibu rumah tak perlu lagi berbau amis karena ikan. Dan juga tak ada lagi air mata yang menetes karena irisan bawang.

 

Martini, sebut saja namanya demikian, tak ingin cap sebagai menantu yang tak bisa memasak melekat pada dirinya. Sejak menikah selama lima tahun, ia memang tak begitu mahir dalam mengolah bahan masakan. Masa mudanya memang lebih banyak dihabiskan belajar di sekolah dan kampus. Nyaris, ia tak pernah mau masuk ke dapur, bersentuhan dengan aneka macam bumbu bahan masakan.

 

Selesai menempuh pendidikan S-1, ibu dua anak ini langsung diterima kerja. Hari-harinya banyak dihabiskan di tempat kerja serta liburan ke luar kota ketika akhir pekan. Masa-masa itu dihabiskannya secara beruntun, ia tak pernah lagi sempat untuk sekedar belajar ataupun menghabiskan waktu berlama-lama di dapur.

 

Ketika menikah dengan Wahono, ia belum berpikir untuk memiliki keahlian memasak. Baru ketika tinggal di rumah mertuanya, ia mulai kelimpungan. Minimnya pengalaman memasak menjadikannya minor. Tentu ia tak mau malu dihadapan mertuanya. Apalagi dalam beberapa kesempatan ia harus berhadapan dengan situasi yang tak mujur, ia diserahi tugas untuk memasak ketika ibunya pergi.

 

Sang suami sebenarnya mengetahui kalau dirinya tak bisa memasak. Beberapa kali Wahono memberikan kesempatan bagi Martini untuk belajar memasak. Karena tak menjadi kebiasaan, maka perintah itu hanya menjadi angin lalu saja. Ia tetap tak bisa menyajikan resep masakan yang enak buat keluarganya.

 

Karena tak ingin malu di depan mertua, Martini tetap berangkat ke pasar sebelum jadwal memasaknya dimulai. Di pasar, ia tak hanya belanja sayuran, ikan, daging, atau rempah-rempah. Ia memilih untuk belanja paket masakann yang tinggal merebus atau mengoreng saja.

 

Di pasar tradisional, saat ini sudah banyak paket masakan yang masih berupa bahan mentah. Sayur sop misalnya, ia tak perlu lagi memotong wortel, kacang panjang, jagung dan kubis. Sebab, semuanya sudah dipotong kecil-kecil dan tinggal memasukan ke panci dengan tambahan air.

 

Demikian juga ketika ia ingin memasak gulai ikan. Potongan ikan mas sudah siap dibawa beserta seperangkat ulekan bumbu yang dikemas dalam plastik kecil. Cabai merah juga sudah diiris kecil-kecil sesuai selera. Ketika sampai di rumah, ia cukup menyalakan kompor serta menyiapkan panci. Ikan dan bumbu yang sudah dikemas tinggak digunting dan measukannya ketika ikan sudah setengah matang. Aroma lezat langsung mengelauti seluruh isi rumah

 

Saat dirinya tak sempat ke pasar tradisional, ia kerap memesan bahan makanan yang siap dimasak melalui online. Di kota besar banyak layanan online yang mau mengantar bahan makanan dan bumbu yang siap dimasak.

 

Cara ini dirasa lebih praktis dan menghemat uang. Sebab, bahan masakan yang dipakai tak sampai berlebih. Kalau memakai cara manual dengan membeli sayur sendiri, ikan, maupun aneka macam rempah untuk bumbu biasanya banyak yang kelebihan dan tak terpakai.

 

Kalau pun sedang malas-malasnya, ia tinggal memberikan sejumlah uang pada salah satu temannya yang memasak makanan. Kebetulan ada temannya semasa kuliah yang membuka layanan memasak aneka jenis makanan.

 

Caranya, ia cukup memberikan sejumlah uang untuk menebus sayur asem, pepes tongkol, rawon, ayam pop, ayam rica-rica, bebek kremes, sup ceker, sampai asam manis ikan gabus. Harganya beragam, rata-rata paling mahal Rp20 ribu.

 

Ia pun cukup mengambil pesanannya ketika pulang bekerja. Sehingga, ketika di rumah ia tak perlu berlama-lama di dapur. Pasalnya, ia cukup menghangatkan makanan dan semua masakan untuk makan malam siap di meja makan.

 

Sementara untuk sarapan, ia cukup menelpon temannya tadi guna mengantar pesanan yang sudah diorder malam harinya. Semua keluarga, baik itu suami dan anaknya tetap bisa sarapan bersama. Kehangatan keluarga ketika berada di meja makan saat sarapan masih bisa dirasakan meskipun dirinya tak bisa memasak.

 

Ia memang sempat berpikir untuk belajar memasak. Namun, waktu yang ada hanya di akhir pekan. Itu pun harus dihabiskan dengan bersih-bersih rumah dan keluar piknik bersama keluarganya.

 

Ia dan suaminya sama-sama bekerja. Setiap hari tak ada kesempatan untuk mencoba resep masakan. Selepas pulang kerja, ia sudah merasa capek dengan tugas-tugas di kantornya. Di rumah ia memilih untuk menghabiskan waktu dengan istirahat. Tak ada waktu untuk berlama-lama di dapur. Meskipun itu hanya sekedar memotong tomat. 

 

Di Pinus Story, kami ingin mengembalikan kebahagiaan di dapur. Di atas gunung, kami semua akan membangkitkan lagi resep rahasia masakan keluarga. Memanjakan lidah, dan menjaga tradisi masakan keluarga. dan tentu saja, Kamu akan terus ingat di mana sebenarnya letak kehangatan keluarga ketika di meja makan.

 

Testimony


Menurut aku tempat yang paling bisa banged untuk menghilangkan Penat dan Stres karena rutinitas kerjaan dan rutinitas di rumah cuman Keindahan Gunung. Gak salah aku gabung sama Team Pinus Story untuk menikmati keindahan Alam Gunung, karena Pinus Story memberikan semua kemudahan dan kenyamanan, dari mulai informasi sblm brgkt, perjalanan naik gunung yg selalu dipandu dengan baik, informasi2 yg selalu diberikan tentang alam, dan yang terpenting KULINER yang disajikan oleh team Pinus Story WOW BANGEEEEDD....!!! SEDDAAAAPPPP.....!!!! Lelah kita setelah menaklukkan Puncak Gunung terbayar LUNAS dengan menikmati Indahnya Gunung dan menikmati KELEZATAN masakan dari Pinus Story.. Bener2 GAK SALAH PILIH deh, Next Trip Gunung pasti bakal gabung sm Team Pinus Story... THANKZ A LOT PINUS STORY, SUKSES TERUUUUUSSS....

aRief sAm Gibson

Pengalaman tak terlupakan! pertama kali mendaki gunung, aduhhh rasanya luar biasa. Bayangan pertama saya dulu berat di perjalanan, melelahkan dan nggak kuat bagi bagi anak-anak. Ternyata semuanya salah. Saya menikmati sekali liburan kali ini. Dan cerita-cerita dari pemandu memberi banyak pengetahuan bagi saya yang pemula ini. Terima kasih Pinus Story....

Inas, Surabaya

Menikmati kuliner di atas gunung benar-benar maknyus cyinnnnn. Sup sunset tomyamnya terasa di lidahnya nyesss banget deh. Apalagi olahan terong penanjakan yang rasanya baru sih. Nggak pernah kebayang masak seperti itu di omah dewe, jelas nggak bisa. Anyway, thanks banget resep2 gunungnya Pinus Story.......

Anisah, Sidoarjo

Dulu aku nggak berani ketika liburan ke gunung, serem kan?. Apalagi bayangan gunung itu seperti sulit untuk didaki. Mendaki Gunung Pundak dengan tim Pinus Story, rasanya beda sekali. Gunungnya cantik, banyak jenis pohonnya. Rasanya ingin kembali lagi ke sana. Maju terus Pinus Story.......

Halimah, Malang

Ini pengalaman kedua saya mendaki gunung lagi #pengalaman pertama mendaki gunung saat masih putih abu2#. Musti ngumpulin niat tuk yakin bisa mendaki gunung lagi di usia yang sudah tidak muda????karna dibutuhkan kekuatan fisik dan mental yang kuat tuk bisa mendaki gunung... Namun, berkat teman2 dari Pinus Story yang selalu bikin suasana fun disetiap perjalanan pendakian membuat saya yakin bisa menyelesaikan pendakian ke gunung pundak 1 Mei 2018 kemarin... Alhasil, terbayar sudah rasa capek mendaki dengan indahnya pemandangan saat berada di puncak gunung pundak ditambah "bonus" hiburan dan menu yang disajikan dari Pinus Story bikin perjalanan trip muncak kali ini sempurna...Ujung2nya bikin nagihhh dahh tuk bisa ngetrip bareng lagi sama teman2 dari Pinus Story. See you next trip Pinus Story. ????

Maya Banyu_benink, Mojokerto
Write Testimony