Tom Yam Goong

25 Maret 2018, Tritus Julan

Orkestra Rasa di Puncak Dunia

Bayangkan begini, suasana di puncak gunung pada malam atau pagi hari. Bertabur bintang atau bermandikan matahari.

Di tengah udara dingin yang menggigit, seseorang mulai menuangkan air ke dalam panci. Gemericik airnya membelah keheningan pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Atau di atas 2.000 mdpl. Atau di atas 3.000 mdpl. Atau di puncak gunung manapun, sesuai pilihan kita.

Sejurus kemudian, ia memotong ujung-ujung batang sereh atau disebut juga serai (Cymbopogon citratus) dan lantas menumbu-numbuk keseluruhan bagiannya. Wanginya menyeruak. Mengharumkan udara sekaligus mengusir nyamuk.

Udang air tawar yang sudah dicuci bersih dikeluarkan dari wadahnya. Kompor dinyalakan. Panci berisi air diletakkan di atas kompor. Beberapa ekor udang dimasukkan ke dalamnya. Tak lama, air di dalamnya mulai menggelegak. Perlahan-lahan tingkat kekentalannya berubah. Air tadi kemudian berubah jadi kaldu. Udang lalu diangkat dari dalam panci dan diletakkan dalam sebuah wadah tertutup.

Pada saat yang beririsan, daun jeruk limo, bersama-sama dengan batang sereh yang sudah gepeng, dan lengkuas dimasukkannya bersama kaldu di dalam panci. Cabai rawit dan sejumlah jenis sayuran sesuai selera menyusul kemudian.

Ini adalah semacam proses harmonisasi rasa. Upaya menyeimbangkan jejak di indera pencecap. Antara gurih khas kaldu, dengan asam, manis, dan pedas pada komposisi yang pas. Tidak ada penyedap rasa berbasis MSG digunakan. Hanya ada permainan selera yang melibatkan garam dan gula sebagai pengendali sedapnya rasa.

Tak berapa lama, udang-udang kembali dimasukkan ke dalam panci yang kemudian ditutup bagian atasnya. Sekitar tiga menit suasana hening. Aroma masakan  hanya tersisa sedikit dari asap yang mengepul tipis.

Terkadang, jejak asap pembakaran itu tersamar dengan asap putih yang keluar saat kita bernapas. Ini adalah hasil kondensasi dari gas sisa paru-paru saat berikatan dengan molekul air pada udara dingin pegunungan.  Tiga menit berlalu, menyusul jamur dan garam diceburkan ke dalam panci. Selama beberapa menit, seluruh komposisi tadi berada di atas nyala api sebelum panci diangkat dari atas kompor.

Saus ikan, perasan jeruk nipis, dan bubuk cabai bisa ditambahkan sesuai selera untuk menambah keseimbangan dan harmoni rasa. Cincangan daun ketumbar juga bisa diberikan sesuai kebutuhan.

Sampai di sini, bau tajam yang memancing air liur sudah memecah udara. Pada titik ini, kita akan terfokus untuk segera memindahkan hidangan bernama Tom Yam (Versi ini bernama Tom Yum Goong karena penggunaan udang air tawar) tersebut ke dalam mangkuk yang kita pegang.

Hidangan asal Thailand, kemungkinan berasal dari upaya padu padan citarasa menyusul berkelimpahannya ketersediaan udang air tawar di aliran Sungai Chao Phraya pada suatu masa, yang populer di negeri asalnya dan juga di banyak negara lain ini ideal disajikan panas-panas. Selain mampu mengusir hawa dingin pegunungan yang menggigit, bermanfat pula bagi kesehatan.

Riset oleh Universitas Kasetsart Thailand dan Universitas Kyoto serta Universitas Kindai (dahulu Universitas Kinki) di Jepang, seperti dikutip dari laman cnn.com, menemukan racikan dalam sup Tom Yum Goong punya faedah menghambat pertumbuhan tumor kanker. Efektivitasnya disebutkan 100 kali lebih banyak dibandingkan jenis makanan lain dengan manfaat serupa.

Jika kita ingin mengendurkan sedikit tendangan rasa yang menghantam lidah dan langit-langit mulut, menambahkan susu cair sesuai kebutuhan adalah solusi terbaik. Nasi yang dimasak dalam derajat keliwetan tertentu untuk memudahkan kita mengonsumsinya dengan sumpit disajikan kemudian. Kita tak perlu khawatir jika belum lihai menggunakan sumpit. Sebab sendok dan garpu juga disediakan.

Akan tetapi pada saat-saat begini sepertinya bukan lagi sendok, garpu, atau sumpit yang menjadi prioritas pertama perhatian kita, tapi sendok sayur (irus) yang niscaya jadi rebutan. Sebab, kita akan terus dilanda kehendak untuk menambah lagi dan lagi sendokan Tom Yam Goong yang terhidang di dalam panci.

Testimony


Menurut aku tempat yang paling bisa banged untuk menghilangkan Penat dan Stres karena rutinitas kerjaan dan rutinitas di rumah cuman Keindahan Gunung. Gak salah aku gabung sama Team Pinus Story untuk menikmati keindahan Alam Gunung, karena Pinus Story memberikan semua kemudahan dan kenyamanan, dari mulai informasi sblm brgkt, perjalanan naik gunung yg selalu dipandu dengan baik, informasi2 yg selalu diberikan tentang alam, dan yang terpenting KULINER yang disajikan oleh team Pinus Story WOW BANGEEEEDD....!!! SEDDAAAAPPPP.....!!!! Lelah kita setelah menaklukkan Puncak Gunung terbayar LUNAS dengan menikmati Indahnya Gunung dan menikmati KELEZATAN masakan dari Pinus Story.. Bener2 GAK SALAH PILIH deh, Next Trip Gunung pasti bakal gabung sm Team Pinus Story... THANKZ A LOT PINUS STORY, SUKSES TERUUUUUSSS....

aRief sAm Gibson

Dulu aku nggak berani ketika liburan ke gunung, serem kan?. Apalagi bayangan gunung itu seperti sulit untuk didaki. Mendaki Gunung Pundak dengan tim Pinus Story, rasanya beda sekali. Gunungnya cantik, banyak jenis pohonnya. Rasanya ingin kembali lagi ke sana. Maju terus Pinus Story.......

Halimah, Malang

It was an amazing experience ! Seumur hidup saya belum pernah naik gunung beneran (kecuali Gunung Bromo ya yang naiknya ada anak tangganya ????). Tanggal 1 Mei 2018 kemarin adalah pengalaman pertama saya naik gunung yaitu ke Gunung Pundak. Dan beruntung sekali saya karena first tracking saya adalah bersama Pinus Story ????. Itinerarry jelas, penjelasan yang mudah dipahami bagi pemula seperti saya, setiap detil disiapkan dengan seksama, dan....saya dengan sabar dipandu sehingga bisa sampai puncak ! Rasanya pingin teriak MERDEKA !! ???? Satu hal lagi yang berkesan adalah pengalaman makan bersama di atas gunung dengan makanan beneran (alias bukan makanan instant). Pinus Story punya chef yang jempolan ???? Thank you for the wonderful first experience...and can't hardly wait for next amazing trip with PINUS STORY ????

Vivin Kurnia, Mojokerto

Pengalaman tak terlupakan! pertama kali mendaki gunung, aduhhh rasanya luar biasa. Bayangan pertama saya dulu berat di perjalanan, melelahkan dan nggak kuat bagi bagi anak-anak. Ternyata semuanya salah. Saya menikmati sekali liburan kali ini. Dan cerita-cerita dari pemandu memberi banyak pengetahuan bagi saya yang pemula ini. Terima kasih Pinus Story....

Inas, Surabaya

Menikmati kuliner di atas gunung benar-benar maknyus cyinnnnn. Sup sunset tomyamnya terasa di lidahnya nyesss banget deh. Apalagi olahan terong penanjakan yang rasanya baru sih. Nggak pernah kebayang masak seperti itu di omah dewe, jelas nggak bisa. Anyway, thanks banget resep2 gunungnya Pinus Story.......

Anisah, Sidoarjo
Write Testimony