Silau Mata Sabana Watu Jengger

22 Maret 2018, Tritus Julan

Silau Mata Sabana Watu Jengger

Desa yang berada di kawasan hutan dan jauh dari perkotaan, kerap menemui masalah ekonomi warganya. Selain lantaran akses transportasi yang menjadi kendala, desa terpencil cenderung menutup diri dari perkembangan. Begitu juga yang terjadi di Desa Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Minimnya akses membuat desa yang terdiri dari dua dusun ini bertahan menyandang status menjadi desa tertinggal.

Dusun Kulubanyu dan Nawangan, menjadi wilayah yang sulit diakses lantaran kondisi jalan yang rusak parah. Tak hanya itu, lokasi dua dusun ini memang berada di kawasan hutan yang jauh dari sarana publik. Masyarakat yang hanya menambatkan kebutuhan ekonominya dari kawasan hutan, juga menjadi faktor ketertinggalan dua dusun tersebut. Terlebih Dusun Nawangan, yang berada di lokasi tersulit untuk dijangkau.

Untuk memasuki dusun yang terdiri dari 55 kepala keluarga (KK) ini, harus menempuh perjalanan yang tak mudah. Selain jalan sempit yang membelah kawasan hutan, kondisi jalan mengalami rusak parah. Untuk kendaraan roda empat, jalur ini sulit dilalui. Begitu pula dengan kendaraan roda dua yang tak mudah untuk melintas di jalur berbatu tersebut. Tak hanya warga luar desa, warga kampung setempat juga enggan jika berurusan dengan jalan.

Namun di tengah keputusasaan warga, muncul potensi yang tak disangka. Kondisi alam yang menawan, pelan-pelan membuat kampung Nawangan sedikit bergeliat. Watu Jengger, salah satu bukit yang kini tengah menjadi pergunjingan warga yang suka berwisata alam. Dusun yang awalnya sepi dari tamu, kini mulai terbiasa menjadi tuan rumah. Pundi-pundi pun mulai dirasakan warga sejak kampung ini ramai tamu wisatawan.

Sudah setahun ini, bukit Watu Jengger menjadi jujugan para wisatawan lokal untuk berlibur. Perbukitan dengan pemandangan indah yang bisa dijangku dengan berjalan kaki selama 1,5 jam itu, menjadi harapan baru bagi warga Dusun Nawangan. Terlebih, perbukitan Watu Jengger mulai dikelola secara baik Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo itu juga. Untuk menikmati pemandangan perbukitan Watu Jengger, wisatawan kini harus membayar tiket masuk Rp10.000 per orang.

Geliat wisata Watu Jengger, otomatis mulai mendongkrak ekonomi warga Dusun Nawangan. Tak sedikit warga yang mulai membuka warung di dalam kawasan hutan sebagai rute menuju puncak Watu Jengger. Warga melalui Karang Taruna juga memanfaatkan banyaknya wisatawan ini dengan mendirikan tempat parkir. Dalam seminggu, jutaan rupiah bisa didapat dari usaha yang dijalankan pemuda dusun setempat itu. ”Paling ramai memang hari Sabtu dan Minggu. Bisa sampai 300 motor,” ungkap Agus, salah satu pemuda kampung Nawangan.

Jika dihitung, pendapatan dari parkir saja, pemuda desa setempat bisa mengantongi uang Rp10 juta lebih dalam sebulan. Untuk menjaga motor wisatawan, warga mematok Rp10.000. Usaha yang dijalani sejak setahun ini, pelan-pelan juga mulai menjadi pendapatan penting. ”Kami yakin, jika jalan kampung diperbaiki, jumlah wisatawan akan semakin banyak. Memang, rata-rata wisatawan enggan ke sini karena kondisi jalannya yang sulit dilalui mobil,” ujarnya dan berharap pemerintah daerah setempat merespons keinginan warga untuk segera melakukan perbaikan jalan.

Adanya wisata andalan baru ini, juga dirasakan Suliasih, salah satu warga yang sejak beberapa bulan lalu mendirikan warung di kawasan hutan. Meski ia hanya membuka warungnya di hari Sabtu dan Minggu, namun hasil dari jualan makanan itu bisa mendongkrak ekonomi keluarganya. ”Selalu ramai jika hari libur,” ujar Suliasih.

Ia juga berharap, wisata Watu Jengger bisa menjadi andalan pendapatan warga. Karena menurutnya, warga tak bisa berharap banyak dari hasil pertanian dan hutan saja. Wisata baru ini, kata Suliasih, diakuinya menjadi harapan baru bagi warga. ”Hanya memang, kondisi jalan masuk kampung ini yang buruk. Sehingga banyak wisatawan yang mengurungkan niat setelah melihat jalan yang berbatu dan sempit ini,” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

Testimony


Menikmati kuliner di atas gunung benar-benar maknyus cyinnnnn. Sup sunset tomyamnya terasa di lidahnya nyesss banget deh. Apalagi olahan terong penanjakan yang rasanya baru sih. Nggak pernah kebayang masak seperti itu di omah dewe, jelas nggak bisa. Anyway, thanks banget resep2 gunungnya Pinus Story.......

Anisah, Sidoarjo

Dulu aku nggak berani ketika liburan ke gunung, serem kan?. Apalagi bayangan gunung itu seperti sulit untuk didaki. Mendaki Gunung Pundak dengan tim Pinus Story, rasanya beda sekali. Gunungnya cantik, banyak jenis pohonnya. Rasanya ingin kembali lagi ke sana. Maju terus Pinus Story.......

Halimah, Malang

Begitu Indah dan Menyenangkan, Jamuan istimewa buat saya dan teman2 untuk melakukan kegiatan Camp Ground yang tak akan terlupakan ???? , keluar dari zona nyaman dan menyatu dengan alam . #pinusstory

Upix, Kediri

Ini pengalaman kedua saya mendaki gunung lagi #pengalaman pertama mendaki gunung saat masih putih abu2#. Musti ngumpulin niat tuk yakin bisa mendaki gunung lagi di usia yang sudah tidak muda????karna dibutuhkan kekuatan fisik dan mental yang kuat tuk bisa mendaki gunung... Namun, berkat teman2 dari Pinus Story yang selalu bikin suasana fun disetiap perjalanan pendakian membuat saya yakin bisa menyelesaikan pendakian ke gunung pundak 1 Mei 2018 kemarin... Alhasil, terbayar sudah rasa capek mendaki dengan indahnya pemandangan saat berada di puncak gunung pundak ditambah "bonus" hiburan dan menu yang disajikan dari Pinus Story bikin perjalanan trip muncak kali ini sempurna...Ujung2nya bikin nagihhh dahh tuk bisa ngetrip bareng lagi sama teman2 dari Pinus Story. See you next trip Pinus Story. ????

Maya Banyu_benink, Mojokerto

Terimakasih buat pinus story yg udah bikin kita merasakan campcer yg sesungguhnya, trimakasih jg buat buat keramahan, kebaikan , pengalaman, dan pengetahuan yg diberikan oleh team pinus story tdk lupa trimakasih jg sdh membuat kita gak merasakan laper di meskipun kita sedang di gunung masakannya chef pinus story bener2 yummi bgt???????? pokoknya can't move dr acara campcer kemarin huhu sukses selalu pinus story semoga kita segera bisa bertemu kembali ????

Sandra , Kediri
Write Testimony